Senin, 23 Desember 2013

Melupakan Adalah Hal Yang Benar

               Hari inii aku berangkat ke kampus seperti biasanya. mencoba tersenyum dan bersahabat pada alam. hingg akupun lupa akan lukaku dari kemarin silam. keceriaan yang sudah kurangkaiakan tiba-tiba pupus oleh sebuah peristiwa kecil. dimana rangkaian namaku tak tercantum dalam nama kelompok ditugas akhir. owh... betapa aku teringat kesungguhan benar-benar dalam pebagian tugas mengerjakannya. bagaimana mereka bisa melupakan namaku ??? sekali lagi aku merasa ada namun hakikatnya tiada. benar kan... kehadiranku tiada arti. percuma aku meramaikan diri berharap tampak. namun hari inii, aku benar-benar terbukti tiada dalam ada. akhirnya aku acuhkan buku itu. mata inii mulai terasa sembab. aku pergi. aku langkahkan kakiku ke perpus. sendiri. air mataku menetes pelan. aku terduduk menerawang menara disamping mastar. yaaa...betapa aku merasa kesepian. aku merasa sesakk. aku lagi-lagi tiada. aku lagi-lagi tak dihargai sebagai teman. aku lagi-lagi tak dianggap ada dalam suatu kelompok. apa sebenarnya salahku, hingga semua orang menganggapku kosong. tak berarti apa-apa. aku memang tak secerdas mereka. aku memang tak sewibawa mereka. akuu...akuu...akuu tak sanggup lagi berkata-kata. untung pagi inii perpus masih sepi. hingga tak ada satupun orang yang melihatku menangis. hingga akhirnya aku putuskan untuk pulang. aku tak mampu lagi berada disini. aku mulai mncoba merangkak, namun pada akhirnya aku masih terjatuh lagi. hingga kemudian kutapai tangga setapak demi tapak tanpa arah. dan pada rangkaian tangga terakhir, aku berpapasan dengannya. sang kemeja putih. entahlah...bagaimana wajah suramku kala itu. akuu...tak peduli. dia mencoba menyapaku. namun aku sudah tak ada mood lagi untuk bertingkah riang. aku benar-benar seperti terpuruk oleh keadaan. hingga kemudian kulanjtkan saja wajah kusutku diperjalanan pulang. berjalan sendiri. yaa...aku sendiri. dan sesampainya di gubuk bambu tanpa jendela, aku merenung mungkin. betapa arti hidupku seperti tanpa makna yang tak kuketahui. oh yaaa, aku tadi juga bertemu bintang senja. -_- aku jadi teringan kommentnya ketika ingin mengetahui aku menjadi orang yang jahat. baikklah. banyak orang yang ingin menjadi baik didunia ini. biarlah aku menjadi orang yang ingin jahat. ah sudahlah ... aku seperti muakk kembali. hingga kutemukan kehangatan persaudaraan dikamar baru inii. yaa hari inii... aku merasa tak baik. semoga rencana teman sekamar yang ingin memmabwaku ke ampel terlaksana dengan indah.  dulu aku sempat mempunyai harapan. jika aku bisa pergi berdua dengan imamku kelak kesana. hmmm, hanya harapan sederhana. mngkin unt awwalan ke ampel dulu berdua. baruu setelah itu kita pergi bersama sekeluarga ke makkah al-mukarromah :)
cukup untuk hari inii, aku tersayat batin. oh iyaa, hari inii pula aku takk melihatnya. orang yang selalu bilang tak apa2, baikk2 saja... namun sebenarnya dia terluka karena sikapku. ah sudahlah... mungkin suatu hari nanti, ia akan bahagia dengan orang yang lebih baik dariku. aku tak ingin memberatkannya. mungkin jika dia benar-benar jujur dalam bahagianya, aku juga akan belajar untuk menjadi teman yang baikk  baginya sebagaimana saran teman-temankuu. iyaa...dia. dia yang akupun tak tahu harus memulai diksi darimana. dia yang datang dan aku harap mampu pergi dengan hubungan sebagai teman saja. semogaa ...
huuuhh... hari inii...
aku juga merindukan bintang senja. karena hari inii, kutahu nama blog sang rembulan cantik. yang kinii menemaninya. sungguh, keinginan mereka untuk bersama dalam maghligai cinta pernikahan...membuatkuu merangkai keikhlasan untuk melepasnya. yaa, walaupun kutahu rasa itu masih ada tersembunyi dibalik sana..mungkin aku juga harus belajar rela untuk benar-benar melihat mereka bahagia. hampir dismua rangkaian kata dalam blog ituu..bercerita tentang bintang senjaku. hehee, sudahlah laaa...move on :)
jaga hatii, jaga dirii, cukupkan semua sampai disinii...
bismillah, kamu pasti bisa laaa O:)
sendiri belum tentu sepii, karena dibalik hari inii masih tersimpan banyak tabir yang suci tersembunyii...

Minggu, 15 Desember 2013

Hal Terberat Adalah Pengorbanan

kakaaakk ...
Andai saja aku mampu mengatakan apa yang aku rasakan sekarang ini,. pastilah aku akan mendengarkan nasehatmu. mencoba melakukan apa yang kau katakan. belajar memahami hidup dengan caraku atas bimbinganmu. namun kaakkk, aku sekarangpun tak berani mengatakan apa yang aku hadapi. aku taakut mengusikmu. aku takut mengganggumu. aku takut akan semua hal-hal yang akan menyulitkanmu. aku takut kaakk, sungguh aku tak ada daya upaya untuk melakukannya. padahal dulu, aku begitu mempercayaimu. ada masalah sekecil apapun, aku pasti bercerita padamu. aku rindu masa dimana aku benar-benar memiliki seorang kakaak. kini kakakk sibuk akan tugas akhir. aku takk akan mengganggumu sedikitpun kak. jika aku bercerita akan masalahku, aku tahu...pasti itu semua akan membebani pikiranmu. sedikit maupun banyak. pasti punya celah disana. kakk,, aku hanya ingin melihat orang-orang terdekatku bahagia. aku tak ingin, kedekatan kakak denganku ada yang iri. biarlah aku saja yang mengalah kaakk. jika dengan mencoba menjadi sebelum aku mengenal kakaa, itu bisa membuat dia bahagia. aku akan mengalah untuknya kak. kakaak jaga diri baik-baik y, mungkin cepat atau lambat aku akan mulai menjauhi kakak. hal yang sama yang aku lakukan ketika aku juga mulai menjauhi semua teman-temanku. aku tak ingin kalian terluka. aku ingin kalian bahagia. akupun juga ingin melihatnya bahagia walaupun haus mengorbankan senyumku. dia juga dulu pernah menjadi teman terbaikku. namun nyatanya aku telah membuatnya terluka sebegitu dalam karena keberadaanku. biarlah aku yang mengalah kak, biarlah aku yang menghindar dari semuanya. dia berhak mendapatkan posisinya. dia pasti akan sangat bahagia jika aku tak lagi ada. terima kasih untuk semuanya kakk... entahlah, sampai dibatas mana aku akan seperti ini. hingga stadium akhir pada penyakitkupun, aku akan menerima takdirku. mungkin inilah yang terbaik untuk semuanya. terima kasih kakakk, karena telah menjadi bagian terindah dalam hidupku, sudilah kiranya engkau menganggapku adek, walau hanya sekejab namun aku tetaplah bahagia :)

***

Kemarin malam sakit diotakku kambuh lagi. hal yang selalu sama terjadi kapan saja padaku. dulu...pernah kambuh ketika dimasjid, namun lantunan sholawat darinya membuatku tenang. pernah pula suatu ketika rasa sakit itu tak tertahankan. tetap dengan nada yang sama, aku menjadi agak baikan. karena kakak. yaaa...dan kini aku tak tahu harus berlari kemana. sakitku kemarin sangat sangat sakit. hingga terasa semua yang kulihat berputar-putar. badanku gemetar dan mimisan. dokter dulu pernah bilang padaku, masih sangat jelas teringat "jika kamu punya masalah dengan ini (sambil menengkupkan tangan kanannya ke dada), dan juga jika sampai pada stadium lanjut, maka akan terjadi perdarahan disana (jari telunjuk yang tegas itu menunjuk bagian paling atas dari tubuhku, tepat). itu adalah hal yang sangat fatal. oleh karena itu, sikapmu yang seperti masih anak kecil. menganggap semuanya lelucon. sedikit demi sedikit akan membantu memulihkan semuanya. ingatlah laaa, jangan biarkan dirimu larut dalam kesedihan. akan fatal akibatnya nanti. kamu mau berjanji kan ???" waktu itu, aku hanya mengabaikan perintah dokter. aku pikir, hidupku akan selalu bahagia. dan ternyata sampai dititik ini, aku tak bahagia. kepalaku benar-benar sakit sekali tadi malam. kira-kira aku sudah stadium berapa ya ??? sudah lama aku tak pergi ke dokter itu lagi. aku pikir, aku hanya perlu berobat ke dokter ganteng. haiisshh, tidak diotak, tidak didarah, tidak dinafas, aku merasa tak baik semuanya. Allah ... apalagi yang kan terjadi padaku nanti entahlah, aku kuat atau bahkan rapuh. namun satu doaku ya Allah... berilah kebahagiaan untuk mereka semuanya, teman-temanku. tak peduli bagaimana keadaanku, aku tetap menyayangi mereka setulus hatiku. semampukuu. Aamiin... :')

Rabu, 11 Desember 2013

11-12-13

Hari ini aku akan bercerita tentang sebuah kisah yang aneh tapi nyata :)
tentang sosok sang kemeja putih,
berjubel tumpukan pilu kemaren yang membuatku susah bernafas, ingin rasanya ada sedikit celah yang dapat membuatku bernafas dengan mudahnya. dan ternyata benar adanya. aku mengharapkan dapat bertemu dengan sang kemeja putih walaupun sekilas. eh ternyata hari ini dia tidak masuk kuliah tampaknya. aku luruskan saja niatku. seandainya Allah meridhoi kami untuk bertemu, aku yakin pasti ada jalan. entah bagaimanapun itu caranya. Allah itu baik :)
hingga akhirnya sampai pulang kuliah, aku tetap tidak menemukan sosok itu. tapi, hatiku tetap yakin jika kita akan tetap bertemu. sepanjang koridor, aku tetap tak menemukannya. ah sudahlah ... mungkin bisa besok ataupun lusa aku akan bertemu dia.
ketika aku dan mb.otoooth.. asyik bercandaa diantara parkiran jalan ke kopma, rame. hehee kita yang membuat rame ternyata. dengan asyiknya tanpa sengaja kusadari pandanganku menuju sosok kemeja putih yang sedari tadi aku cari. yach, dia ada tepat didepan kopma. hahaa, ternyata benar y... jika kita telah yakin ataupun percaya pada semua Kuasa Allah, maka apa sih.. yang tidak bagi Allah :) masih lekat pula dalam pikirku akan senyum manis itu. hohoo, jarang banget aku bicara padanya. jikalau berbicarapun dia kelewat banget sopannya. aku sungkan jadinya. terimakasih y Allah, untuk hari inii ...
ketika perjalanan pulang, aku main lomba-lombaan sama mb.otoooth. karena jalan tempuh perjalanan kami lumayan sulit, menanjak pakek banget keatas. kamipun berlomba, siapa yang sampai duluan diatas berarti dia pemenang "pemilik badan terkurus". dan akhirnya sebelum belokan aku terbelakang sendiri. whiiuuhh, berat banget rasanya inii badan dibuat lari bergerak cepat keatas. eh ketika aku menengok kebelakang, aku liat sang kemeja putih itu lewat dengan motor yang sama dan plat nomor yang sama. hahaa, baru kali ini aku hafal plat nomor orang. plat nomor motorku yang dirumah saja aku tak hafal ... hehee,
akhirnya dengan sigap, aku lari sekuat tenaga hingga tanpa aku sadari, aku terengah-engah. sakit banget dadaku. terasa makk jlebh... sueerrr, benar-benar gilaa memang y, daan sayalah pemenangnya. hohoo, mb.otoooth mengalah pada saya sepertinya. dan di perempatan jalan, bertemu lagi deh, dengan sang kemeja putih itu. hingga mungkin dia bermaksud menyapa. "pakek motorku ta, biar aku yang jalan". hahaa, itu mungkin dimaksud ke mb.otoooth. jika bicara ke aku, pasti bisa dihitung ada beberapa kata yang keluar :)
kemuadian, kami hanya membalas semua itu dengan senyuman tanpa kata terngiang, diapun berlalu. good bye... sang kemeja putih :) terima kasih banyak untuk hari ini y Allah ...

Rabu, 04 Desember 2013

Miss You ... abah :*


Jumat, 22 November 2013

Cinta Menurut Islam


1. CINTA MAWADDAH

adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.

2. CINTA RAHMAH

adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih walaupun ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antara orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim ertinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.

3. CINTA MAIL

adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedut seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.

4. CINTA SYAGHAF

adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) boleh jadi seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyedari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, isteri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.

5. CINTA RA’FAH

yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak sanggup membangunkannya untuk sholat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut istilah ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini hukuman bagi penzina (Q/24:2).

6. CINTA SHOBWAH

yaitu cinta buta, cinta yang mendorong kelakuan yang menyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut istilah ini ketika mengisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, “wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)”.

7. CINTA SYAUQ (RINDU)

istilah ini bukan dari Al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan Al Qur’an. Dalam surat Al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad : ”wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu”. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab “Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin”, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, (hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi).

8. CINTA KULFAH

yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positif meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut Al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, “la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)”
by : YM

Pembelaanmu, Terima Kasih Teman

              Seperti biasa dengan waktu yang biasa, saya meluncur keluar kelas penuh dengan histeris. histeris bahagia. hahaa... dassar mahasiswa tiada baik2nya. dalam seharian penuh, dengan 2 mata kuliah berbeda, daaan semua dosen berhalangan hadir. haish, bisa gila mendadak saya. suatu fenomena dunia pendidikan. udah bayar mahal2, tapi selalu saja tertuntut pada jam kosong, kesibukan sang dosen, hingga waktu dalam sakit. mungkin ada juga kesibukan sendiri yang terselubung. hehee :)
walaupun itu semua kejadian terjadi, tetaplah harus bersyukur dalam "memandang kebawah". saya bisa berada di kampus ulul albab ini dengan berjuta cerita yang mungkin kebanyakan dari remaja seumuran saya belumlah bisa merasakan betapa indahnya menjadi mahasiswi. oh hooo, yaaa itulah roda kehidupan yang selalu berputar jungkar jungkir bolak balik. dan ketika saya "memandang keatas" disanalah berjubel harapan dengan keyakinan saya bisa meraih semua mimpi diawan ;)
              Dalam asyiknya kembang tawa, saya melihat sosok kemeja putih itu. tepat berada didepan kelas tetangga. hohoo, dia sosok yang baik menurut saya. merelakan dirinya terkena masalah besar, karena saya. serta menyembunyikan nama saya dalam masalahnya. hmmm, padahal dengan jelas saya juga menjadi tersangka dialur masalah itu. tetapi, hingga sekarang dia yang bergeming masalah dan saya masih selamat. ah sudahlah. toh ya jikalau saya ngikut bergeming dengan masalah itu ... mungkin habislah hidup saya dimana saya bertempat sekarang. yaaa, banyak keajaiban dibalik kata mungkin. mungkin saja dia juga memiliki berjuta alasan dalam penyembunyian nama saya. okke, saya acungi 2 jempol atas kebaikan dia kepada saya. terimakasih ... serta maaf atas pengecutnya diri saya. diam beribu bahasa. berharap semoga masalah ini cepat usai. seiring dengan berombaknya waktu.
             Tampak berbeda sosok kemeja putih itu dari biasanya. kedua mataku menyipit seakan mendiagnosa hal apakah yang membuat pandanganku berbeda dari biasanya. wajahnya tampak pucat. serta baru kali ini aku melihatnya pakai jacket. yaps, jacket abu-abu itu seakan menjadi perwakilan atas apa yang tersembunyi dibalik kesan hangat yang diberikan. ketika aku dengan PDnya mengajak dia bercakap, kudapatkan sosok yang benar-benar berbeda. balasan kata-kata yang lembut. bijak. raut muka yang, menurutku penuh dengan sosok yang dewasa. hingga tersadarlah aku jika dia begitu benar-benar berbeda hari ini.
"eh, pyn piye ambek masalah seng iku ??? wess ndak popo ta ??? ..."
"wess, ndak popo. serahne ae mbek Pengeran. lak pancen e salah yo Pengeran sng mbales."
"wauuw... y tapi aku moleh ngroso ndak enak nang pyn e. spurane"
"iyooo, gampanglah. wess ndak usah dipikir. santae ae"
 senyum itu masih lekat terpampang begitu sempurna. betapa tersembunyi tanyaku dalam hati kemudian. "kamu sakit ya ??? maaf"

*22-11-13


Minggu, 17 November 2013

Bayangan...


jika saja aku mampu mengutarakan "rindu" yang tak pernah terutarakan.
jika saja aku mampu mengutarakan "kasih" yang tak pernah terutarakan.
jika saja aku mampu mengutarakan "cinta" yang tak pernah terutarakan.
jika saja aku mampu mengutarakan apa yang tak mampu kuutarakan.
sayangnya, kamu adalah bayang-bayang. entah kapan dan dimana, aku menjadikanmu ada dalam deretan kisah ketiadaan. siapapun kamu, kini kamu hanya bayang. bayang dalam sorot mataku nan jauh diufuk awan. bayang dalam segala memory tentang siapa. harap dalam semu bahagia. bayang yang sedari dulu aku requestkan yang paling sederhana diantara yang paling indah menurutNYA. bayang yang senantiasa menjaga agamanya dalam suka maupun duka. dalam perih lara maupun gempar bahagia. bayang yang menurutku itu, mungkin itu, bisa saja itu dan itu. satir yang belumlah terlepas. bayang yang belumlah sempurna. aku yang tiadalah menjadi bagiannya. semoga mampu. semoga bisa. semoga senantiasa dilumuri cinta atas ridhoNYA. entah kini dan nanti. aku akan belajar mencintaimu sepenuh hati. mengasihimu dalam suci. serta merindukanmu dalam bakti... semoga O:)
dalam bayangpun aku berdoa, semoga ... semoga ... dan semoga. siapapun nama dilauhul mahfudz sana. itulah nama teristimewa dari sekian banyak nama untuk bersanding dengan nama yang menjadi doa dalam diri nan penuh angkara ini ...
hingga terpatrilah akhlak mahmudah dalam bimbingan imamku yang sesungguhnya ...
rintihan doa diantara banyak wanita yang inginkan siapapun dia, dalam cinta Tuhannya berbalut mahligai surah ar-rahman dan surah al-waqiah ...


Jumat, 01 November 2013

Surat Untuk Sang Pena Kecil Pengagum Hujan :)

01-11-2013

wahai temaaan ...
kita bertemu tiada kiraan ...
mengalunkan nada indah persahabatan ...
berada diantara kisah terkembang nian ...
ufuk fajar yang menjadi beribu dugaan ...
maafkan ...
atas segala tawa yang selalu menyesakkan ...
mungkin diantara kata kesekian ...
menjadi salah dalam pengertian ...
kini aku belajar menjadi diriku yang lain ...
menjadi lebih memahami apa itu arti kawan ...
sehingga aku dan kamu dapat berpeluk dalam kemesraan ...
dalam indahnya senja lantunan ...
tiada kata berpeluh untuk mengumbar ratapan ...
aku dan kamu sama dalam artian ...
sama-sama bertahan ...
dari suatu rasa sakit yang tak tertahankan ...
entah kapan ...
namun kita harus yakin ...
yakin ...
dan yakin ...
datangnya makna kesembuhan ...
dari balik lorong manapun kehidupan ...
alur yang belum pernah kita jajaki semua keunggulan ...
disanalah kita menemukan kekuatan ...
dalam balut harapan ...
tetaplah tersenyum kawaann ...
aku ada diantara cerita kau dendangkan ...
menuju apa itu penghabisan :)

miss you so much


Kamis, 19 September 2013

"Bianglala Lakon" _18-09-13_



Tentang Seseorang
Entah apa yang aku pikirkan kini. Semuanya mengambang. Aku memang benar-benar tak mengerti dan belumlah pantas untuk mengenal. Tentang seseorang. Tentang apa itu cinta. Bagaimana tidak. Mungkin menjadi sebuah kesalahan jika aku menyayangi seseorang, namun tak kuutarakan semua tentangnya yang begitu indah dimataku lewat kejujuran kata padanya. Dalam keheningan malam, aku selalu berdoa agar kisah cinta ini dapat berakhir bahagia. Semakin hari berlalu, maka aku semakin menangis. Bukan karena ada apa. Manakah hati seorang wanita yang tak menjerit dan tertoreh dengan air mata, jika melihat sosok yang ia sayangi begitu indah dan banyak yang mengagumi. Sedangkan perasaan yang telah lama terpendam tersebut, tiada sampai terutarakan. Memang sulit untuk membuatnya mengerti serta memahami. Seharusnya telah lama aku berkaca dan benar-benar memandang siapakah diriku dan dirinya. Dia memanglah ibarat bintang yang  bersinar terang membubung tinggi disana, sedangkan aku hanyalah butiran debu yang berharap suci karenanya. Memandangnya dari jauh, adalah harapku dalam setiap waktu. Terdiam. Dan terus memperhatikannya. Ketika banyak orang yang berbicara tentang indahnya. Ketika banyak orang yang mengaguminya. Ketika sinar dan indahnya semakin terpancar disekelilingku. Aku hanya mampu terdiam dan hanya diam dalam tangis harap pilu.
            Teringat olehku, ketika pertama kali aku mengenalnya hanya dari sebuah nama. Ya, ukiran nama yang indah. Memasuki perguruan tinggi ini adalah hal yang menakjubkan bagiku waktu itu. Apalagi setelah aku disahkan menjadi mahasiswi dikampus ini. Impian banyak orang memang, untuk dapat melanjutkan study setelah jenjang menengah atas. Rasa syukur atas segala nikmat yang tiada terkira. Menebar senyum pada alam. Berharap musim semi dan hujan bersorak mengagumi. Agar bahagia selalu menyelimuti. Aku masih hafal benar ketika namaku terpampang pada papan pengumuman dengan judul “Daftar Nama-Nama yang Masuk dikelas A”. Namun, bagiku semua kelas tetaplah sama saja. Karena dalam argumenku, ilmu yang bermanfaat adalah yang dapat diterima dengan keikhlasan serta ketulusan dan dapat merealisasikannya kembali pada kehidupan bersama. Alangkah bahagianya diri ini ketika itu. Senja nan menyejukkan berpartisipasi mengalirkan angin sepoi lembut tanda suka. Sekilas namaku tampak cantik pada barisan no.37. Nurul Azka. Namanya tepat berada diatas namaku. Tentang seseorang. Tanpa aku mengetahui bagaimanakah namanya telah menjadi kekagumanku detik itu juga. Disana tertulis dengan jelas. Tiada alasan panjang untuk dapat menyatakan kekaguman yang sekilas hembus angin tersebut. Hanya tersimpul senyum ketika melihatnya. Dan tanpa aku ketahui dari kisah selanjutnya, aku seperti ingin mengetahui siapakah sang pemilik nama. Entahlah. Ketika itu aku hanya berfikir bahwa kami akan dipertemukan oleh waktu. Dan penglihatan sekilas namun berkesan tersebut, takdirlah yang akan menentukan dimana akhirnya kelak.
            Ketika masa orientasi siswa, aku telah mengenalnya. Walaupun ketika itu, dia belumlah mengenalku. Kita satu kelompok. Dan dia menjadi ketuanya. Cukup mengagumkan edisi kedua mengenalnya. Apalagi ketika dia menjadi perwakilan mahasiswa untuk qori’. Akupun hingga tak mampu lagi melukiskan bagaimana beribu senyum tersembunyi, telah tersimpul dalam bibirku. Apalagi ketika season terakhir acara. Tentang bagaimana kita dibebankan tugas terakhir. Mengarang kesan selama mengikuti kegiatan orientasi. Memang, masa orientasiku tidaklah sekejam dalam media yang sering diberitakan. Aku masuk dalam jurusan pendidikan. apa pun kegiatan yang terselenggara tetaplah manusiawi. Walaupun selalu dihimpit oleh waktu. Disanalah kita dapat berfikir dan belajar untuk menjadi calon pendidik yang lebih disiplin dan bertanggung jawab. Ketika itu, aku masih mengingatnya dengan benar. Saat aku meminjam buku catatannya, tentang tugas mengarang kesan tersebut. Kebetulan dia telah menyelesaikannya  dalam tempo waktu 5 menit. ibarat mengarang dalam sekejab. Inti tulisannya adalah tentang kegiatan sholat. Sedikit mengkritik waktu yang diberikan untuk menunaikannya.  Ibarat kata, ibadah sholat seperti dikejar maling atau akan diterkam binatang buas. Dalam hitungan detik telah terselesaikan sebegitu cepat. Sebagaimana gaya tulisannya, aku dapat berpandang bahwa dia benar-benar tak setuju dengan hal tersebut. Sosok yang begitu tegas dalam hal demikian. Memang tampak dari penampilannya yang selalu rapi dan alim. Karakter tulisannya, membuatku memahami akan satu hal. Bahwa dia adalah orang yang memiliki pendirian kuat namun karakternya sulit ditebak. Sehingga dia terkesan kaku dan gaya bicaranya yang terlalu tinggi dalam menalarkan. Sedikit kata dalam cakap. Tak elak, jika aku terkadang harus berfikir beberapa kali untuk dapat menangkap dari segala pembicaraan dengannya. Apapun itu, patut disyukuri  karena telah belajar mengenal orang seperti dia dari sebuah nama.
Selama kita sekelas. hal tersebut tidaklah membuatnya mengetahui kekagumanku padanya. Apapun yang terjadi, aku tak pernah menginginkan untuk diketahui. Biarlah rintik waktu yang akan melukiskan kisah ini hingga benar-benar menjadi kisah terindah dalam RidhoNYA. Namun, jikalau tidak. Maka biarlah angin lalu yang akan menghapusnya pula karena takdir.  Hari-hari berlalu dengan lihainya. Tak terasa, aku menjadi teman sekelasnya dalam tempo singkat dalam tiga semester. Namun, hal tersebut telah sukses membuatku belajar akan karaktenya. Aku menjadi mengerti banyak hal tentangnya. Mulai dari keluarganya hingga harapan-harapannya. Semua itu kuketahui tanpa sengaja dari cakap teman-teman yang bertemakan tentang dirinya. Tidak sedikit yang memberikan kesan baik padanya. Lagi, lagi dan lagi aku hanya mampu terdiam tak bersimpul kata. Cukup mengesankan. Tentang seseorang.
            Mengenai keluarganya, dia berasal dari keluarga cukup terpandang disebuah kota yang ada didaerah bandung. Ayahnya memiliki perkebunan teh yang mampu mempekerjakan sebagian besar penduduk disekitar rumahnya. Ibunya memiliki usaha kerajinan yang cukup terkenal pula. Tak ayal jika penduduk sekitar begitu menghormati keluarga kecil tersebut. Dia tidak memiliki saudara. Anak tunggal. Besar harapan ayahnya, agar dia mampu melanjutkan apa yang telah dirintis oleh keluarga besarnya itu.  
            Tirisan hujan sore ini, telah menghambat langkah kepulanganku. Bak semua air ditumpahkan ke bumi dari langit sana. Isyarat balas dendam tanah kering berminggu-minggu. Hawa dingin mulai gemuruh menembus sela-sela rajutan kain baju yang kupakai. Hanya mampu merenung saat tetes-tetes terakhir dari hujan kali ini. Tepat didepan kelas, aku menunggu. Walau bagaimanapun, hujan tetaplah anugerah terindah nan patut disyukuri. Karenanya petani bersorak. Karenanya ikan menari. Karenanya pohon rindang berbasah diri. Sungguh, anugerah terindah yang benar-benar patut disyukuri. Waktu terasa lama berjalan. Teman-temanku mengambil keputusan terakhir untuk menerjang hujan karena hari semakin gelap meninggalkan terang senja. Aku masih belum mampu menerjang hujan. Payungku tertinggal dirumah kakak tak serta terbawa saat berangkat kuliah tadi. Jarak antara kampus dengan rumah saudaraku yang kini kutinggali, lumayan membuat kaki lelah berjalan. Jarak yang harus kutempuh sekitar 3 km dengan menghabiskan waktu 30 menit perjalanan. Kelokan jalan lereng gunung lah yang membuat payah. Namun, semua ini adalah pilihanku. Aku harus mampu konsisten pada apa yang aku pilih. ketika aku pulang dari kota ini dengan bergelar sarjana, aku berharap dapat menjadi kebanggaan tersendiri oleh kedua orang tuaku. Bukan untuk menuntut disombongkan. Tetapi lebih kepada arti ilmu dan kehidupan itu sendiri. Seberapa besar diri menjadi manfaat untuk orang lain. Tak penting suatu proses mencekik jiwa dan raga. Yang terpandang adalah karya yang tercipta. Apa yang dapat berguna dan berharga ketika aku telah tiada.
            Terhenyak dalam lamunan, seseorang menghampiriku.
“Sedang menunggu hujan reda ka ? ”.
“iya nih, waaah… kayaknya hujan bersahabat sampek malam menjelang”. (menghela nafas panjang).
“lupa bawa payung ya ? pakek ja nih, payungku”. (sambil menyodorkan payung hijau bermotif daun segar bentuk kecil menyebar)
“lah, nanti kamu pakek apa ? ”
udah deh, pria itu lebih simple daripada wanita kan ? pakek saja payungku, biar besok kamu bisa masuk kuliah pagi. Aku nginep dirumahnya saudaraku saja. Deket kok. Lima langkah dari gerbang belakang kampus ini.” (sambil nyengir)
            Namanya Hafidz. Dia adalah sahabat kecilku. Kami akrab sedari tingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, sekolah menengah atas hingga di dunia perkuliahan ini, kami selalu bersama. Tidak jarang kami sering bertengkar namun bila berpisah selalu merasa ada yang kurang. Kami berusaha untuk dapat menjadi sahabat yang baik. Persahabatan kami sangatlah wajar. Walaupun masa yang kami lewati telah panjang, namun hal tersebut tidaklah menimbulkan perasaan yang lebih. Kami saling menyayangi sebagai sahabat. Hafidz memiliki kisah cintanya sendiri begitupun sebaliknya denganku. Pihak keluargaku dengan pihak keluarganya juga dapat saling memahami kedekatan antara kami. Oleh karenanya, keluarga kami seperti benar-benar terhubungan tanpa sekat.
            Waktu seakan berlari kencang. Tak terasa, kini aku telah berada di semester akhir. Payahnya mengerjakan skripsi. Letihnya konsultasi dengan dosen pembimbing. Serta kacaunya pikiran untuk menjadi baik diakhir wisuda nanti. Sempat merasa down beberapa hari. Untunglah Hafidz selalu memberikan semangat padaku. Padahal tingkat penggarapan skripsi yang seharusnya dia lebih berat ketimbang aku, karena fakultas yang dia ambil adalah sains dan teknologi. Dia mengambil jurusan Teknik Arsitektur. Tingkat pemikiran yang lebih. Tidak mudah untuk menyelesaikan waktu kuliah hanya 3,5 tahun. Tetapi, ketika kutanyakan perihal tentang skripsinya selalu saja terlontar kata “innAlloha ma’anaa” (Sesungguhnya Alloh selalu bersama kita). Seperti tanpa beban kata-kata itu terucap. Tak lupa senyum nyengir juga tak pernah absen. Hafidz memang bukanlah orang yang mudah menyerah oleh keadaan. Sungguh beruntung seseorang yang telah menjadi tambatan hatinya. Bagaimana tidak. Menurutku, Hafidz adalah sosok yang baik. Penyayang pula. Hingga tak sedikit teman-temannya yang meminta bantuaanya, dengan ringan hati dia membantu mereka. Sering kutanyakan tentang sosok yang akan dikenalkan pada keluarganya setelah wisuda nanti. Jawabnya hanya beberapa kata. “semoga Alloh meridhoinya”. Walaupun kami begitu dekat. Namun tetap saja dalam masalah tambatan hati, selalu menjadi rahasia pribadi masing-masing. Dia tidak pernah menyebutkan nama. Dia selalu menyebut “pengagum hujan”. Begitu pula denganku. Aku selalu menyebutkan kata “bintang” pada sosok yang aku kagumi ketika berkisah dengannya. Kami memiliki prinsip masing-masing. Biarlah akhir yang menentukan. Takdir yang mengikatkan kisah terakhir. Dalam beberapa bait-bait yang selalu kami kisahkan.
            Masa wisuda. Masa yang ternantikan sejak dulu pertama kali memasuki perguruan tinggi negeri ini. Tepat ketika kita dilepas dengan gelar sarjana. Namun memberikan kebingungan luar biasa pada yang belum dapat menerimanya. Berpikir bagaimana setelah ini. Belumlah terpatrikan tujuan dimana dan kemana. Pasti prosesi wisuda sangatlah berbeban. Riuh tepuk tangan terasa hambar. Namun kedatangan orang tua telah memberikan kesan tersendiri. Sedikit air dipelupuk mata mereka sebagai tanda bangga, menumbuhkan getar haru dalam sanubari. Tepat ketika wisuda kali ini, selama 3,5 tahun aku mengaguminya dalam diam. Ketika namanya terpanggil sebagai wisudawan terbaik, senyumku tiada usai terukir. Hanya mampu memandangnya dari jauh. Untuk berkali-kali, itulah yang dapat aku lakukan. Bahagia dapat menyaksikan secara transparan. Spontan lamunanku tersentak. Ternyata namaku terpanggil sebagai wisudawati terbaik kedua setelahnya. Betapa debar jantung semakin keras berderai. Bersanding dalam satu panggung bersamanya. Dalam satu podium tiada terasa. Semua seperti mimpi. Diufuk kursi terakhir yang paling belakang, kulihat senyum ibu dan tawa bapak bersahutan. Inilah hasil akhir dari semua usaha mereka selama ini. Berbanting tulang. Menepis asa. Berburu waktu. Terus berusaha memberikan yang terbaik kepada anaknya. Uang semester yang terhitung tidaklah murah, mampu mereka penuhi dengan tepat waktunya. Segala upaya mereka yang terselip dalam ingatanku, tak terasa meneteskan air mata dipipi. Dengan gontai, air mata itu tiada berhenti mengalir haru. Seakan tidak percaya. Sontak sosok disampingku menyodorkan sapu tangan warna biru polos bergaris lurus tiga ditepiannya. Aku hanya mampu menerima diam dalam anggukan. Seraya kata terima kasih tersedak. Namun dalam tatapan mata sekilas, telah memberikan arti dari semuanya.
            Tiga tahun telah berlalu. Kekaguman itu ternyata masih ada. Tentang seseorang. Terakhir bertemu dengannya adalah ketika wisuda. Sapu tangan biru itu, belum sempat aku kembalikan. Dia telah menghilang dalam pandanganku. Entah keyakinan apa yang membuatku bertahan. Mengaguminya, sungguh mempesona.
            Beberapa hari kemudian, statusku berubah. Aku telah menjadi seorang istri. hari ini, suamiku mengajakku takziyah ke rumah temannya yang meninggal dunia satu minggu yang lalu karena kecelakaan. Naasnya, satu rombongan dalam mobil tersebut tidak ada yang selamat. Tepat ketika sampai disana, suasana berkabung masih menyengat. Kebetulan teman suamiku, termasuk keluarga pesantren. Jadi, pemakamannya dilakukan didekat pondok pesantren tersebut dalam makam keluarga. Setelah selesai sowan ke ndalem kyai, kami langsung menuju ke makam teman suamiku berada. Betapa terkejutnya mata ini memandang nama dalam nisan. Terpampang jelas bayangan sosok sang pemilik nama. Muhammad ilham fuadi. Betapa hati tersayat pilu. Begitu tuli oleh waktu. Hanya mampu meratap memandangi bunga-bunga disekitar batu nisan. Kini, aku hanya mampu bersandar dipundak suamiku. Muhammad Hafidz. Sapu tangan warna biru yang masih rapi kusimpan, dan kini sapu tangan itu berusaha menghapus tangisan sedihku. Terukir doa menyanjung, semoga engkau mendapatkan tempat terindah disana. Sebagaimana keindahanmu telah menyanjungku dalam kisah tentang seseorang, yang dulu kekagumanku pernah terpatrikan
Buah karya : Syafarila Al-farabie