Rabu, 13 Mei 2015

Ketika Paskasarjana Menjadi Saksi Bisu

Pukul 11.11 WIB, kedua kakiku mantab menghuni sebuah angkot berwarna ungu merah jambu dengan titlenya "Kota Batu". Menjadi penghuni bangku pojok adalah hobiku ketika naik angkot, dengan sedikit gerakan kecil kuhadapkan badan ke muka sambil memandang jendela yang telah kubuka lebar, selebar-lebarnya. Aroma dingin yang khas ba'da hujan, semburat mengalunkan lamunanku. Hingga kutersadar Pak Sopir mulai menjalankan mesinnya diwaktu yang telah beranjak tepat pukul 14.14 WIB. Sempat aku berfikir "kok nayamul yaaa ... lamanya ???" ahh, sudahlah. Toh ya Pak Supir sudah taubatan nasuha untuk tidak memPHP para penumpangnya. hehee ... angkotpun melaju dengan hawa dingin bersarang. Tepat dipinggir jalan aku turun. Dua orang satpam muda nan ganteng membantuku menyeberang dengan senyum simpul mereka. Hahaa, nyeberang aja ditemenin ... mau ndak pak, saya temenin di pelaminan bawain amplopnya  (hush, pikiran kotor mulai jail) ...
Memasuki dua buah pintu berkaca, menuju lift, kemudian naik ke lantai dua. Hmm, cukup dag dig dug juga ketika di dalam lift hanyalah tinggal aku seorang. Setelah itu, pintu lift terbuka. Entah mengapa mulutku hanya ingin tersenyum manis semanis-manisnya ketika kedua mataku menatap seseorang di balik pintu lift, tepat di depanku. Hingga kusapa beliau dan dibalas dengan senyum simpul yang sama seperti sambutan dua satpam tadi.
(speecles) "monggo, pak ..."
(beliau mengangguk dan memasuki lift yang mulai kutinggalkan, menuju lantai dasar tempat para mobil berbaris rapi, sejajar)
Setelah aku sampai di tempat tujuan utamaku datang kesini, aku mulai tersadar.
"itu tadi kan bapak dosen pembimbing yang kucari,, trus sekarang aku ngapain di depan kantor beliau ?? pintunya pun telah rapat tertutup. hiks, aku mah gitu orangnyaa ... " 

13-05-2015



16.31
Senja mulai merangkul mega. Akupun mantap membunyikan bensin beralur di sebuah tempat teratur hijau, wangi aroma khas desa. Hanya sejuk yang kurasa. Tepat di depan area pemakaman umum, aku berhenti. Sekedar mengecek isi tas, yang kukira ganjal dengan kata "ketinggalan". Tiba-tiba ada seorang anak berumur 11 tahunan hampir menyerempetku dengan sepeda ontel miliknya. "Ehh,,spuntene mbak". Senyum nyengirnya terlempar indah. Layang-layang di punggung, menjadi berlalu begitu saja. Ia kayuh sepedanya dengan kecepatan penuh sepertinya sedang tergesa-gesa. Dengan bunyi bensin yang sama, kukejar ia karena kebetulan, arah tujuan kami sama. Sesampainya di depan sebuah musholla kecil, kusapa ia dengan kata "ayokk, balapan dek..". hingga akupun berlalu mendahuluinya. Sesampainya di jalan belokan, kuturunkan tensi bensin. hehee..rupanya ada polisi tidur yang abadi tak akan pernah bangun. Dengan penuh kehati-hatian menjaga keseimbangan, adek berkaos coklat tadi berganti mendahuluiku. "Horreee,,,aku menang mbak". Tawanya...mengingatkanku akan sebuah hal. Ternyata, usaha kerasnya membuahkan hasil yang maksimal. Dengan kerja kerasnya mengayuh sepeda lebih cepat, ia mendahuluiku di belokan itu. yaa,, yang terpenting adalah usaha keras, kita bisa sampai pada tujuan. Bukan karena kita berada diatas motor, kita menjadi lebih sombong daripada orang yang berjalan kaki. Bukan karena kita berada di dalam mobil, kita menjadi lebih angkuh dari para pengayuh jalanan. Bukan karena kita terbang, kita menjadi lupa daratan. Bersyukur atas apa yang ada dan memperbaiki yang masih kurang, itulah kuncinya. 

‪#‎Kita‬ bertekad + #kita berusaha = itulah cara Allah membuat kita mengetahui hakikat makna :) :) :) 

 
*hey adek kecil,,usaha besarmu dan tekad kuatmu mengajarkanku ‪#‎SEMANGAT‬ diposisi sekarang ini. Terima kasih atas pelajaran hari ini..terima kasih ...