Sabtu, 25 Juli 2015

Biru Muda :)

                  Candaan kecil yang sempat kau lontarkan, sempat juga membuatku bahagia. Ada udara halus yang damai mengetuk pintu hatiku. Tahukah engkau ? kuciptakan senyum dalam tatapan hangat kepadamu. Hehee, tapi maaf jika tampak ketus dalam balutan kecuekanku. Kita sama-sama bercuri pandang, satu sama lain. Kikuk juga sih, tapi seru. Karena hanya aku, engkau dan Allah Yang Tahu. Ini hanyalah kisah kecil dan tak ada yang patut dibanggakan dari kisah kecil seperti ini. Entahlah, ini hanya nafsu semata atau keindahan dariNYA. Namun karena hal-hal kecil ini, aku sempat mengharapkanmu. Bukan hanya sekali ataupun dua kali kita berkisah manis seperti ini. Di kisah-kisah sebelumnya, sama-sama membuatku berharap engkaulah yang terakhir dari petualangan hatiku. Sebenarnya, tumpukan-tumpukan harapan panjang yang menjadi angan itulah yang ingin kupangkas. Mudah bagiku untuk jatuh cinta, tetapi luka mengajarkanku segalanya. Berharap yang belum pasti, apa artinya ? kesopananmu, keramahanmu, dan kesederhanaanmu, membuatku bercermin tentang siapa aku. Kamu dibandingkan dengan diriku, tidak seimbang di kamu. Kamu layak mendapatkan yang terbaik. Kamu layak memperoleh yang lebih baik dariku. Aku bukan siapa-siapa bahkan aku belum bisa apa-apa. Biarlah aku belajar kebaikan yang sejajar dengan kebaikanmu. Aku tidak ingin membebani tanggung jawabmu. Setiap hal yang menurutku kau tujukan padaku, aku ingin memangkas itu semua agar tidak meninggi dan menjatuhkanku. Bahkan jika bisa, aku ingin bisa menghapusnya. Tetaplah kebaikan pada dirimu menjadi pelajaran berharga bagiku. Karenamu, aku belajar tentang banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kita paksakan. Biarlah janji Allah terjadi sesuai kehendak penaNYA, yakni ketika pena terangkat dan tinta telah mengering. Ketika takdir telah berkata dan itu pasti terjadi. Jodoh, rizki, mati.
                 Warna biru yang kau kenakan di acara itu, aku cukup berbahagia karenanya. Mungkin kali ini kita menghadiri acara walimah orang lain. Mungkin juga, suatu saat nanti kita kenakan warna biru yang sama diacara walimah kita berdua. Hehee, aamiin :) 

23-07-15
malam jum'at barokah

Senin, 13 Juli 2015

Biru Yang Sama

Ceritaku kini beralih pada warna biru. Bukan hanya sekedar tua ataupun dongker namun lebih dari itu, yakni biru muda. Berseling putih diantara garis lurusnya, aku menemukan sebuah senyuman. Layaknya senja dipinggiran pantai, suasana itulah yang mampu kugambarkan. Damai, hening, dan indah. Aku tidak membeda-bedakan warna biru, hanya saja aku lebih tertarik pada perpaduan biru muda dan putih. Mengalirkan keramahan, kesopanan, dan kehumorisan. Ia seperti warna biru yang biasa karena ia tampak begitu sederhana. Tahukah engkau ? biru itulah yang selalu kurindukan kedatangannya. Biru itulah yang selalu kuharapkan kehadirannya. Biru itulah yang sudah kukagumi selama tiga periode ini. Biru yang sama dengan keramahan keluargaku. Biru yang sama dengan kesopanan kota kelahiranku. Biru yang sama dengan kehumorisan duniaku. Aku mengagumi setiap apapun pada dirinya. Karena pada biru yang sama, aku pun menceritakan hal yang sama. Ia yang kini menjadi titik keindahan. Ia yang kini menjadi titik kesederhanaan. Ia yang kini menjadi titik cinta dan kasih sayang. Pada biru yang sama, aku menceritakan. Nasehat buta yang mulai kupandang. Nasehat yang pernah suatu ketika ia lontarkan, dalam hening dingin malam. Pada biru yang sama, aku mulai memahami suatu makna dimana kita berbeda. Ia meninggi di atas sana, aku terpana di bawah sini. Karena pada kenyataannya, ternyata kita bukanlah biru yang sama. Biru yang selalu bersanding dengan putih, bukanlah biru yang selalu bersanding dengan merah jambu. Namun dalam tiap helai doa, kusebutkan harapan biru yang sama. Bukan hanya berdiri sendiri sebagai biru muda. Tetapi Biru yang sama pada warna yang sama. Biru yang sama pada keyakinan yang sama. Biru yang sama pada perbaikan yang sama. Biru yang saling menguatkan. Biru yang saling memahamkan. Biru yang selalu kurindukan dalam jengkal pepatah malam. Sebentar lagi, aku akan kehilangan biru itu karena waktu. Semoga pada langit yang sama, tengadah doa untuk biru yang sama. Bukan hanya aku tapi juga dia. Pada biru yang sama, cerita kita tiada berjeda. Pada biru yang sama, tertinggal senyuman dalam cerita dan hanya pada biru yang sama, biru yang selalu kurindukan kehadirannya ... :)

Malang, 13 Juli '15


Rabu, 13 Mei 2015

Ketika Paskasarjana Menjadi Saksi Bisu

Pukul 11.11 WIB, kedua kakiku mantab menghuni sebuah angkot berwarna ungu merah jambu dengan titlenya "Kota Batu". Menjadi penghuni bangku pojok adalah hobiku ketika naik angkot, dengan sedikit gerakan kecil kuhadapkan badan ke muka sambil memandang jendela yang telah kubuka lebar, selebar-lebarnya. Aroma dingin yang khas ba'da hujan, semburat mengalunkan lamunanku. Hingga kutersadar Pak Sopir mulai menjalankan mesinnya diwaktu yang telah beranjak tepat pukul 14.14 WIB. Sempat aku berfikir "kok nayamul yaaa ... lamanya ???" ahh, sudahlah. Toh ya Pak Supir sudah taubatan nasuha untuk tidak memPHP para penumpangnya. hehee ... angkotpun melaju dengan hawa dingin bersarang. Tepat dipinggir jalan aku turun. Dua orang satpam muda nan ganteng membantuku menyeberang dengan senyum simpul mereka. Hahaa, nyeberang aja ditemenin ... mau ndak pak, saya temenin di pelaminan bawain amplopnya  (hush, pikiran kotor mulai jail) ...
Memasuki dua buah pintu berkaca, menuju lift, kemudian naik ke lantai dua. Hmm, cukup dag dig dug juga ketika di dalam lift hanyalah tinggal aku seorang. Setelah itu, pintu lift terbuka. Entah mengapa mulutku hanya ingin tersenyum manis semanis-manisnya ketika kedua mataku menatap seseorang di balik pintu lift, tepat di depanku. Hingga kusapa beliau dan dibalas dengan senyum simpul yang sama seperti sambutan dua satpam tadi.
(speecles) "monggo, pak ..."
(beliau mengangguk dan memasuki lift yang mulai kutinggalkan, menuju lantai dasar tempat para mobil berbaris rapi, sejajar)
Setelah aku sampai di tempat tujuan utamaku datang kesini, aku mulai tersadar.
"itu tadi kan bapak dosen pembimbing yang kucari,, trus sekarang aku ngapain di depan kantor beliau ?? pintunya pun telah rapat tertutup. hiks, aku mah gitu orangnyaa ... " 

13-05-2015



16.31
Senja mulai merangkul mega. Akupun mantap membunyikan bensin beralur di sebuah tempat teratur hijau, wangi aroma khas desa. Hanya sejuk yang kurasa. Tepat di depan area pemakaman umum, aku berhenti. Sekedar mengecek isi tas, yang kukira ganjal dengan kata "ketinggalan". Tiba-tiba ada seorang anak berumur 11 tahunan hampir menyerempetku dengan sepeda ontel miliknya. "Ehh,,spuntene mbak". Senyum nyengirnya terlempar indah. Layang-layang di punggung, menjadi berlalu begitu saja. Ia kayuh sepedanya dengan kecepatan penuh sepertinya sedang tergesa-gesa. Dengan bunyi bensin yang sama, kukejar ia karena kebetulan, arah tujuan kami sama. Sesampainya di depan sebuah musholla kecil, kusapa ia dengan kata "ayokk, balapan dek..". hingga akupun berlalu mendahuluinya. Sesampainya di jalan belokan, kuturunkan tensi bensin. hehee..rupanya ada polisi tidur yang abadi tak akan pernah bangun. Dengan penuh kehati-hatian menjaga keseimbangan, adek berkaos coklat tadi berganti mendahuluiku. "Horreee,,,aku menang mbak". Tawanya...mengingatkanku akan sebuah hal. Ternyata, usaha kerasnya membuahkan hasil yang maksimal. Dengan kerja kerasnya mengayuh sepeda lebih cepat, ia mendahuluiku di belokan itu. yaa,, yang terpenting adalah usaha keras, kita bisa sampai pada tujuan. Bukan karena kita berada diatas motor, kita menjadi lebih sombong daripada orang yang berjalan kaki. Bukan karena kita berada di dalam mobil, kita menjadi lebih angkuh dari para pengayuh jalanan. Bukan karena kita terbang, kita menjadi lupa daratan. Bersyukur atas apa yang ada dan memperbaiki yang masih kurang, itulah kuncinya. 

‪#‎Kita‬ bertekad + #kita berusaha = itulah cara Allah membuat kita mengetahui hakikat makna :) :) :) 

 
*hey adek kecil,,usaha besarmu dan tekad kuatmu mengajarkanku ‪#‎SEMANGAT‬ diposisi sekarang ini. Terima kasih atas pelajaran hari ini..terima kasih ...