Jumat, 22 November 2013

Pembelaanmu, Terima Kasih Teman

              Seperti biasa dengan waktu yang biasa, saya meluncur keluar kelas penuh dengan histeris. histeris bahagia. hahaa... dassar mahasiswa tiada baik2nya. dalam seharian penuh, dengan 2 mata kuliah berbeda, daaan semua dosen berhalangan hadir. haish, bisa gila mendadak saya. suatu fenomena dunia pendidikan. udah bayar mahal2, tapi selalu saja tertuntut pada jam kosong, kesibukan sang dosen, hingga waktu dalam sakit. mungkin ada juga kesibukan sendiri yang terselubung. hehee :)
walaupun itu semua kejadian terjadi, tetaplah harus bersyukur dalam "memandang kebawah". saya bisa berada di kampus ulul albab ini dengan berjuta cerita yang mungkin kebanyakan dari remaja seumuran saya belumlah bisa merasakan betapa indahnya menjadi mahasiswi. oh hooo, yaaa itulah roda kehidupan yang selalu berputar jungkar jungkir bolak balik. dan ketika saya "memandang keatas" disanalah berjubel harapan dengan keyakinan saya bisa meraih semua mimpi diawan ;)
              Dalam asyiknya kembang tawa, saya melihat sosok kemeja putih itu. tepat berada didepan kelas tetangga. hohoo, dia sosok yang baik menurut saya. merelakan dirinya terkena masalah besar, karena saya. serta menyembunyikan nama saya dalam masalahnya. hmmm, padahal dengan jelas saya juga menjadi tersangka dialur masalah itu. tetapi, hingga sekarang dia yang bergeming masalah dan saya masih selamat. ah sudahlah. toh ya jikalau saya ngikut bergeming dengan masalah itu ... mungkin habislah hidup saya dimana saya bertempat sekarang. yaaa, banyak keajaiban dibalik kata mungkin. mungkin saja dia juga memiliki berjuta alasan dalam penyembunyian nama saya. okke, saya acungi 2 jempol atas kebaikan dia kepada saya. terimakasih ... serta maaf atas pengecutnya diri saya. diam beribu bahasa. berharap semoga masalah ini cepat usai. seiring dengan berombaknya waktu.
             Tampak berbeda sosok kemeja putih itu dari biasanya. kedua mataku menyipit seakan mendiagnosa hal apakah yang membuat pandanganku berbeda dari biasanya. wajahnya tampak pucat. serta baru kali ini aku melihatnya pakai jacket. yaps, jacket abu-abu itu seakan menjadi perwakilan atas apa yang tersembunyi dibalik kesan hangat yang diberikan. ketika aku dengan PDnya mengajak dia bercakap, kudapatkan sosok yang benar-benar berbeda. balasan kata-kata yang lembut. bijak. raut muka yang, menurutku penuh dengan sosok yang dewasa. hingga tersadarlah aku jika dia begitu benar-benar berbeda hari ini.
"eh, pyn piye ambek masalah seng iku ??? wess ndak popo ta ??? ..."
"wess, ndak popo. serahne ae mbek Pengeran. lak pancen e salah yo Pengeran sng mbales."
"wauuw... y tapi aku moleh ngroso ndak enak nang pyn e. spurane"
"iyooo, gampanglah. wess ndak usah dipikir. santae ae"
 senyum itu masih lekat terpampang begitu sempurna. betapa tersembunyi tanyaku dalam hati kemudian. "kamu sakit ya ??? maaf"

*22-11-13


0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar