Kamis, 19 September 2013

"Bianglala Lakon" _18-09-13_



Tentang Seseorang
Entah apa yang aku pikirkan kini. Semuanya mengambang. Aku memang benar-benar tak mengerti dan belumlah pantas untuk mengenal. Tentang seseorang. Tentang apa itu cinta. Bagaimana tidak. Mungkin menjadi sebuah kesalahan jika aku menyayangi seseorang, namun tak kuutarakan semua tentangnya yang begitu indah dimataku lewat kejujuran kata padanya. Dalam keheningan malam, aku selalu berdoa agar kisah cinta ini dapat berakhir bahagia. Semakin hari berlalu, maka aku semakin menangis. Bukan karena ada apa. Manakah hati seorang wanita yang tak menjerit dan tertoreh dengan air mata, jika melihat sosok yang ia sayangi begitu indah dan banyak yang mengagumi. Sedangkan perasaan yang telah lama terpendam tersebut, tiada sampai terutarakan. Memang sulit untuk membuatnya mengerti serta memahami. Seharusnya telah lama aku berkaca dan benar-benar memandang siapakah diriku dan dirinya. Dia memanglah ibarat bintang yang  bersinar terang membubung tinggi disana, sedangkan aku hanyalah butiran debu yang berharap suci karenanya. Memandangnya dari jauh, adalah harapku dalam setiap waktu. Terdiam. Dan terus memperhatikannya. Ketika banyak orang yang berbicara tentang indahnya. Ketika banyak orang yang mengaguminya. Ketika sinar dan indahnya semakin terpancar disekelilingku. Aku hanya mampu terdiam dan hanya diam dalam tangis harap pilu.
            Teringat olehku, ketika pertama kali aku mengenalnya hanya dari sebuah nama. Ya, ukiran nama yang indah. Memasuki perguruan tinggi ini adalah hal yang menakjubkan bagiku waktu itu. Apalagi setelah aku disahkan menjadi mahasiswi dikampus ini. Impian banyak orang memang, untuk dapat melanjutkan study setelah jenjang menengah atas. Rasa syukur atas segala nikmat yang tiada terkira. Menebar senyum pada alam. Berharap musim semi dan hujan bersorak mengagumi. Agar bahagia selalu menyelimuti. Aku masih hafal benar ketika namaku terpampang pada papan pengumuman dengan judul “Daftar Nama-Nama yang Masuk dikelas A”. Namun, bagiku semua kelas tetaplah sama saja. Karena dalam argumenku, ilmu yang bermanfaat adalah yang dapat diterima dengan keikhlasan serta ketulusan dan dapat merealisasikannya kembali pada kehidupan bersama. Alangkah bahagianya diri ini ketika itu. Senja nan menyejukkan berpartisipasi mengalirkan angin sepoi lembut tanda suka. Sekilas namaku tampak cantik pada barisan no.37. Nurul Azka. Namanya tepat berada diatas namaku. Tentang seseorang. Tanpa aku mengetahui bagaimanakah namanya telah menjadi kekagumanku detik itu juga. Disana tertulis dengan jelas. Tiada alasan panjang untuk dapat menyatakan kekaguman yang sekilas hembus angin tersebut. Hanya tersimpul senyum ketika melihatnya. Dan tanpa aku ketahui dari kisah selanjutnya, aku seperti ingin mengetahui siapakah sang pemilik nama. Entahlah. Ketika itu aku hanya berfikir bahwa kami akan dipertemukan oleh waktu. Dan penglihatan sekilas namun berkesan tersebut, takdirlah yang akan menentukan dimana akhirnya kelak.
            Ketika masa orientasi siswa, aku telah mengenalnya. Walaupun ketika itu, dia belumlah mengenalku. Kita satu kelompok. Dan dia menjadi ketuanya. Cukup mengagumkan edisi kedua mengenalnya. Apalagi ketika dia menjadi perwakilan mahasiswa untuk qori’. Akupun hingga tak mampu lagi melukiskan bagaimana beribu senyum tersembunyi, telah tersimpul dalam bibirku. Apalagi ketika season terakhir acara. Tentang bagaimana kita dibebankan tugas terakhir. Mengarang kesan selama mengikuti kegiatan orientasi. Memang, masa orientasiku tidaklah sekejam dalam media yang sering diberitakan. Aku masuk dalam jurusan pendidikan. apa pun kegiatan yang terselenggara tetaplah manusiawi. Walaupun selalu dihimpit oleh waktu. Disanalah kita dapat berfikir dan belajar untuk menjadi calon pendidik yang lebih disiplin dan bertanggung jawab. Ketika itu, aku masih mengingatnya dengan benar. Saat aku meminjam buku catatannya, tentang tugas mengarang kesan tersebut. Kebetulan dia telah menyelesaikannya  dalam tempo waktu 5 menit. ibarat mengarang dalam sekejab. Inti tulisannya adalah tentang kegiatan sholat. Sedikit mengkritik waktu yang diberikan untuk menunaikannya.  Ibarat kata, ibadah sholat seperti dikejar maling atau akan diterkam binatang buas. Dalam hitungan detik telah terselesaikan sebegitu cepat. Sebagaimana gaya tulisannya, aku dapat berpandang bahwa dia benar-benar tak setuju dengan hal tersebut. Sosok yang begitu tegas dalam hal demikian. Memang tampak dari penampilannya yang selalu rapi dan alim. Karakter tulisannya, membuatku memahami akan satu hal. Bahwa dia adalah orang yang memiliki pendirian kuat namun karakternya sulit ditebak. Sehingga dia terkesan kaku dan gaya bicaranya yang terlalu tinggi dalam menalarkan. Sedikit kata dalam cakap. Tak elak, jika aku terkadang harus berfikir beberapa kali untuk dapat menangkap dari segala pembicaraan dengannya. Apapun itu, patut disyukuri  karena telah belajar mengenal orang seperti dia dari sebuah nama.
Selama kita sekelas. hal tersebut tidaklah membuatnya mengetahui kekagumanku padanya. Apapun yang terjadi, aku tak pernah menginginkan untuk diketahui. Biarlah rintik waktu yang akan melukiskan kisah ini hingga benar-benar menjadi kisah terindah dalam RidhoNYA. Namun, jikalau tidak. Maka biarlah angin lalu yang akan menghapusnya pula karena takdir.  Hari-hari berlalu dengan lihainya. Tak terasa, aku menjadi teman sekelasnya dalam tempo singkat dalam tiga semester. Namun, hal tersebut telah sukses membuatku belajar akan karaktenya. Aku menjadi mengerti banyak hal tentangnya. Mulai dari keluarganya hingga harapan-harapannya. Semua itu kuketahui tanpa sengaja dari cakap teman-teman yang bertemakan tentang dirinya. Tidak sedikit yang memberikan kesan baik padanya. Lagi, lagi dan lagi aku hanya mampu terdiam tak bersimpul kata. Cukup mengesankan. Tentang seseorang.
            Mengenai keluarganya, dia berasal dari keluarga cukup terpandang disebuah kota yang ada didaerah bandung. Ayahnya memiliki perkebunan teh yang mampu mempekerjakan sebagian besar penduduk disekitar rumahnya. Ibunya memiliki usaha kerajinan yang cukup terkenal pula. Tak ayal jika penduduk sekitar begitu menghormati keluarga kecil tersebut. Dia tidak memiliki saudara. Anak tunggal. Besar harapan ayahnya, agar dia mampu melanjutkan apa yang telah dirintis oleh keluarga besarnya itu.  
            Tirisan hujan sore ini, telah menghambat langkah kepulanganku. Bak semua air ditumpahkan ke bumi dari langit sana. Isyarat balas dendam tanah kering berminggu-minggu. Hawa dingin mulai gemuruh menembus sela-sela rajutan kain baju yang kupakai. Hanya mampu merenung saat tetes-tetes terakhir dari hujan kali ini. Tepat didepan kelas, aku menunggu. Walau bagaimanapun, hujan tetaplah anugerah terindah nan patut disyukuri. Karenanya petani bersorak. Karenanya ikan menari. Karenanya pohon rindang berbasah diri. Sungguh, anugerah terindah yang benar-benar patut disyukuri. Waktu terasa lama berjalan. Teman-temanku mengambil keputusan terakhir untuk menerjang hujan karena hari semakin gelap meninggalkan terang senja. Aku masih belum mampu menerjang hujan. Payungku tertinggal dirumah kakak tak serta terbawa saat berangkat kuliah tadi. Jarak antara kampus dengan rumah saudaraku yang kini kutinggali, lumayan membuat kaki lelah berjalan. Jarak yang harus kutempuh sekitar 3 km dengan menghabiskan waktu 30 menit perjalanan. Kelokan jalan lereng gunung lah yang membuat payah. Namun, semua ini adalah pilihanku. Aku harus mampu konsisten pada apa yang aku pilih. ketika aku pulang dari kota ini dengan bergelar sarjana, aku berharap dapat menjadi kebanggaan tersendiri oleh kedua orang tuaku. Bukan untuk menuntut disombongkan. Tetapi lebih kepada arti ilmu dan kehidupan itu sendiri. Seberapa besar diri menjadi manfaat untuk orang lain. Tak penting suatu proses mencekik jiwa dan raga. Yang terpandang adalah karya yang tercipta. Apa yang dapat berguna dan berharga ketika aku telah tiada.
            Terhenyak dalam lamunan, seseorang menghampiriku.
“Sedang menunggu hujan reda ka ? ”.
“iya nih, waaah… kayaknya hujan bersahabat sampek malam menjelang”. (menghela nafas panjang).
“lupa bawa payung ya ? pakek ja nih, payungku”. (sambil menyodorkan payung hijau bermotif daun segar bentuk kecil menyebar)
“lah, nanti kamu pakek apa ? ”
udah deh, pria itu lebih simple daripada wanita kan ? pakek saja payungku, biar besok kamu bisa masuk kuliah pagi. Aku nginep dirumahnya saudaraku saja. Deket kok. Lima langkah dari gerbang belakang kampus ini.” (sambil nyengir)
            Namanya Hafidz. Dia adalah sahabat kecilku. Kami akrab sedari tingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, sekolah menengah atas hingga di dunia perkuliahan ini, kami selalu bersama. Tidak jarang kami sering bertengkar namun bila berpisah selalu merasa ada yang kurang. Kami berusaha untuk dapat menjadi sahabat yang baik. Persahabatan kami sangatlah wajar. Walaupun masa yang kami lewati telah panjang, namun hal tersebut tidaklah menimbulkan perasaan yang lebih. Kami saling menyayangi sebagai sahabat. Hafidz memiliki kisah cintanya sendiri begitupun sebaliknya denganku. Pihak keluargaku dengan pihak keluarganya juga dapat saling memahami kedekatan antara kami. Oleh karenanya, keluarga kami seperti benar-benar terhubungan tanpa sekat.
            Waktu seakan berlari kencang. Tak terasa, kini aku telah berada di semester akhir. Payahnya mengerjakan skripsi. Letihnya konsultasi dengan dosen pembimbing. Serta kacaunya pikiran untuk menjadi baik diakhir wisuda nanti. Sempat merasa down beberapa hari. Untunglah Hafidz selalu memberikan semangat padaku. Padahal tingkat penggarapan skripsi yang seharusnya dia lebih berat ketimbang aku, karena fakultas yang dia ambil adalah sains dan teknologi. Dia mengambil jurusan Teknik Arsitektur. Tingkat pemikiran yang lebih. Tidak mudah untuk menyelesaikan waktu kuliah hanya 3,5 tahun. Tetapi, ketika kutanyakan perihal tentang skripsinya selalu saja terlontar kata “innAlloha ma’anaa” (Sesungguhnya Alloh selalu bersama kita). Seperti tanpa beban kata-kata itu terucap. Tak lupa senyum nyengir juga tak pernah absen. Hafidz memang bukanlah orang yang mudah menyerah oleh keadaan. Sungguh beruntung seseorang yang telah menjadi tambatan hatinya. Bagaimana tidak. Menurutku, Hafidz adalah sosok yang baik. Penyayang pula. Hingga tak sedikit teman-temannya yang meminta bantuaanya, dengan ringan hati dia membantu mereka. Sering kutanyakan tentang sosok yang akan dikenalkan pada keluarganya setelah wisuda nanti. Jawabnya hanya beberapa kata. “semoga Alloh meridhoinya”. Walaupun kami begitu dekat. Namun tetap saja dalam masalah tambatan hati, selalu menjadi rahasia pribadi masing-masing. Dia tidak pernah menyebutkan nama. Dia selalu menyebut “pengagum hujan”. Begitu pula denganku. Aku selalu menyebutkan kata “bintang” pada sosok yang aku kagumi ketika berkisah dengannya. Kami memiliki prinsip masing-masing. Biarlah akhir yang menentukan. Takdir yang mengikatkan kisah terakhir. Dalam beberapa bait-bait yang selalu kami kisahkan.
            Masa wisuda. Masa yang ternantikan sejak dulu pertama kali memasuki perguruan tinggi negeri ini. Tepat ketika kita dilepas dengan gelar sarjana. Namun memberikan kebingungan luar biasa pada yang belum dapat menerimanya. Berpikir bagaimana setelah ini. Belumlah terpatrikan tujuan dimana dan kemana. Pasti prosesi wisuda sangatlah berbeban. Riuh tepuk tangan terasa hambar. Namun kedatangan orang tua telah memberikan kesan tersendiri. Sedikit air dipelupuk mata mereka sebagai tanda bangga, menumbuhkan getar haru dalam sanubari. Tepat ketika wisuda kali ini, selama 3,5 tahun aku mengaguminya dalam diam. Ketika namanya terpanggil sebagai wisudawan terbaik, senyumku tiada usai terukir. Hanya mampu memandangnya dari jauh. Untuk berkali-kali, itulah yang dapat aku lakukan. Bahagia dapat menyaksikan secara transparan. Spontan lamunanku tersentak. Ternyata namaku terpanggil sebagai wisudawati terbaik kedua setelahnya. Betapa debar jantung semakin keras berderai. Bersanding dalam satu panggung bersamanya. Dalam satu podium tiada terasa. Semua seperti mimpi. Diufuk kursi terakhir yang paling belakang, kulihat senyum ibu dan tawa bapak bersahutan. Inilah hasil akhir dari semua usaha mereka selama ini. Berbanting tulang. Menepis asa. Berburu waktu. Terus berusaha memberikan yang terbaik kepada anaknya. Uang semester yang terhitung tidaklah murah, mampu mereka penuhi dengan tepat waktunya. Segala upaya mereka yang terselip dalam ingatanku, tak terasa meneteskan air mata dipipi. Dengan gontai, air mata itu tiada berhenti mengalir haru. Seakan tidak percaya. Sontak sosok disampingku menyodorkan sapu tangan warna biru polos bergaris lurus tiga ditepiannya. Aku hanya mampu menerima diam dalam anggukan. Seraya kata terima kasih tersedak. Namun dalam tatapan mata sekilas, telah memberikan arti dari semuanya.
            Tiga tahun telah berlalu. Kekaguman itu ternyata masih ada. Tentang seseorang. Terakhir bertemu dengannya adalah ketika wisuda. Sapu tangan biru itu, belum sempat aku kembalikan. Dia telah menghilang dalam pandanganku. Entah keyakinan apa yang membuatku bertahan. Mengaguminya, sungguh mempesona.
            Beberapa hari kemudian, statusku berubah. Aku telah menjadi seorang istri. hari ini, suamiku mengajakku takziyah ke rumah temannya yang meninggal dunia satu minggu yang lalu karena kecelakaan. Naasnya, satu rombongan dalam mobil tersebut tidak ada yang selamat. Tepat ketika sampai disana, suasana berkabung masih menyengat. Kebetulan teman suamiku, termasuk keluarga pesantren. Jadi, pemakamannya dilakukan didekat pondok pesantren tersebut dalam makam keluarga. Setelah selesai sowan ke ndalem kyai, kami langsung menuju ke makam teman suamiku berada. Betapa terkejutnya mata ini memandang nama dalam nisan. Terpampang jelas bayangan sosok sang pemilik nama. Muhammad ilham fuadi. Betapa hati tersayat pilu. Begitu tuli oleh waktu. Hanya mampu meratap memandangi bunga-bunga disekitar batu nisan. Kini, aku hanya mampu bersandar dipundak suamiku. Muhammad Hafidz. Sapu tangan warna biru yang masih rapi kusimpan, dan kini sapu tangan itu berusaha menghapus tangisan sedihku. Terukir doa menyanjung, semoga engkau mendapatkan tempat terindah disana. Sebagaimana keindahanmu telah menyanjungku dalam kisah tentang seseorang, yang dulu kekagumanku pernah terpatrikan
Buah karya : Syafarila Al-farabie 




           

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar