Tentang Seseorang
Entah
apa yang aku pikirkan kini. Semuanya mengambang. Aku memang benar-benar tak
mengerti dan belumlah pantas untuk mengenal. Tentang seseorang. Tentang apa itu
cinta. Bagaimana tidak. Mungkin menjadi sebuah kesalahan jika aku menyayangi
seseorang, namun tak kuutarakan semua tentangnya yang begitu indah dimataku
lewat kejujuran kata padanya. Dalam
keheningan malam,
aku selalu
berdoa agar kisah cinta ini dapat berakhir bahagia. Semakin hari berlalu, maka
aku semakin menangis. Bukan karena ada apa. Manakah hati seorang wanita yang
tak menjerit dan tertoreh dengan air mata, jika melihat sosok yang ia sayangi
begitu indah dan banyak yang mengagumi. Sedangkan perasaan yang telah lama
terpendam tersebut, tiada sampai
terutarakan.
Memang sulit untuk membuatnya mengerti serta memahami. Seharusnya telah lama
aku berkaca dan benar-benar memandang siapakah diriku dan dirinya. Dia
memanglah ibarat bintang yang bersinar
terang membubung tinggi disana, sedangkan aku hanyalah butiran debu yang berharap
suci karenanya. Memandangnya
dari jauh, adalah harapku dalam
setiap waktu. Terdiam. Dan terus memperhatikannya. Ketika banyak orang yang
berbicara tentang indahnya.
Ketika banyak orang yang mengaguminya. Ketika sinar dan indahnya semakin terpancar disekelilingku.
Aku hanya mampu terdiam dan hanya diam dalam tangis harap pilu.
Teringat olehku, ketika pertama kali
aku mengenalnya
hanya dari sebuah nama. Ya, ukiran nama yang indah. Memasuki perguruan tinggi
ini adalah hal yang menakjubkan bagiku waktu itu. Apalagi setelah aku disahkan
menjadi mahasiswi dikampus
ini.
Impian banyak orang memang, untuk dapat melanjutkan study setelah jenjang
menengah atas. Rasa syukur atas segala nikmat yang tiada terkira. Menebar
senyum pada alam. Berharap musim semi dan hujan bersorak mengagumi. Agar
bahagia selalu menyelimuti. Aku masih hafal benar ketika namaku terpampang pada
papan pengumuman dengan judul “Daftar
Nama-Nama yang Masuk dikelas A”. Namun, bagiku
semua kelas tetaplah sama saja. Karena dalam argumenku, ilmu yang bermanfaat adalah yang dapat diterima
dengan keikhlasan serta
ketulusan dan dapat merealisasikannya kembali pada kehidupan bersama. Alangkah bahagianya diri ini ketika itu. Senja nan menyejukkan berpartisipasi mengalirkan angin sepoi
lembut tanda suka. Sekilas namaku tampak cantik pada barisan no.37. Nurul Azka. Namanya tepat berada diatas namaku. Tentang seseorang. Tanpa aku
mengetahui bagaimanakah namanya
telah menjadi kekagumanku
detik itu juga. Disana tertulis dengan jelas. Tiada alasan panjang untuk dapat menyatakan kekaguman
yang sekilas hembus angin tersebut. Hanya tersimpul
senyum ketika melihatnya. Dan tanpa aku ketahui dari kisah selanjutnya, aku seperti
ingin mengetahui siapakah sang pemilik nama. Entahlah. Ketika itu aku hanya
berfikir bahwa kami akan
dipertemukan oleh waktu. Dan penglihatan sekilas namun berkesan tersebut,
takdirlah yang akan
menentukan dimana akhirnya kelak.
Ketika masa orientasi siswa, aku
telah mengenalnya.
Walaupun
ketika itu, dia belumlah
mengenalku. Kita satu kelompok. Dan dia menjadi ketuanya. Cukup
mengagumkan edisi kedua mengenalnya. Apalagi ketika dia menjadi
perwakilan mahasiswa untuk qori’. Akupun hingga tak mampu lagi melukiskan
bagaimana beribu senyum tersembunyi, telah tersimpul dalam bibirku. Apalagi
ketika season
terakhir acara. Tentang bagaimana kita dibebankan tugas terakhir. Mengarang kesan selama mengikuti
kegiatan orientasi.
Memang, masa orientasiku tidaklah sekejam dalam media yang sering diberitakan. Aku masuk dalam jurusan pendidikan.
apa pun kegiatan yang terselenggara tetaplah manusiawi. Walaupun selalu
dihimpit oleh waktu. Disanalah kita dapat berfikir dan belajar untuk menjadi
calon pendidik yang lebih disiplin dan bertanggung jawab. Ketika itu, aku masih
mengingatnya dengan benar. Saat aku meminjam buku catatannya, tentang tugas mengarang kesan tersebut. Kebetulan dia telah menyelesaikannya dalam
tempo waktu
5 menit. ibarat mengarang
dalam sekejab. Inti tulisannya adalah tentang kegiatan sholat.
Sedikit mengkritik waktu yang diberikan untuk menunaikannya. Ibarat kata, ibadah sholat seperti dikejar
maling atau akan diterkam binatang buas. Dalam hitungan detik telah
terselesaikan sebegitu cepat.
Sebagaimana
gaya tulisannya, aku dapat
berpandang bahwa dia benar-benar tak setuju dengan
hal tersebut. Sosok yang begitu tegas
dalam hal demikian. Memang tampak dari penampilannya yang selalu rapi dan alim. Karakter tulisannya, membuatku memahami akan satu hal. Bahwa dia adalah orang yang memiliki
pendirian kuat namun karakternya
sulit ditebak. Sehingga dia
terkesan kaku dan gaya bicaranya
yang terlalu
tinggi dalam menalarkan. Sedikit kata dalam cakap. Tak elak, jika aku terkadang
harus berfikir beberapa kali untuk dapat menangkap dari segala pembicaraan
dengannya. Apapun itu, patut disyukuri karena telah belajar mengenal orang seperti dia dari sebuah nama.
Selama kita sekelas. hal tersebut
tidaklah membuatnya
mengetahui kekagumanku padanya.
Apapun yang terjadi, aku tak pernah menginginkan untuk diketahui. Biarlah rintik waktu yang akan melukiskan kisah ini hingga benar-benar
menjadi kisah terindah dalam RidhoNYA. Namun, jikalau tidak. Maka biarlah angin
lalu yang akan
menghapusnya pula karena
takdir. Hari-hari berlalu dengan lihainya. Tak terasa, aku menjadi teman sekelasnya dalam tempo
singkat dalam tiga semester. Namun, hal tersebut telah sukses membuatku
belajar akan karaktenya. Aku menjadi mengerti banyak hal tentangnya. Mulai dari
keluarganya hingga harapan-harapannya. Semua itu kuketahui tanpa sengaja dari
cakap teman-teman yang bertemakan tentang dirinya. Tidak sedikit yang memberikan
kesan baik padanya. Lagi, lagi dan lagi aku hanya mampu terdiam tak bersimpul
kata. Cukup mengesankan. Tentang seseorang.
Mengenai
keluarganya, dia berasal dari keluarga cukup terpandang disebuah kota yang ada
didaerah bandung. Ayahnya memiliki perkebunan teh yang mampu mempekerjakan
sebagian besar penduduk disekitar rumahnya. Ibunya memiliki usaha kerajinan
yang cukup terkenal pula. Tak ayal jika penduduk sekitar begitu menghormati
keluarga kecil tersebut. Dia tidak memiliki saudara. Anak tunggal. Besar
harapan ayahnya, agar dia mampu melanjutkan apa yang telah dirintis oleh keluarga
besarnya itu.
Tirisan
hujan sore ini, telah menghambat langkah kepulanganku. Bak semua air
ditumpahkan ke bumi dari langit sana. Isyarat balas dendam tanah kering
berminggu-minggu. Hawa dingin mulai gemuruh menembus sela-sela rajutan kain
baju yang kupakai. Hanya mampu merenung saat tetes-tetes terakhir dari hujan
kali ini. Tepat didepan kelas, aku menunggu. Walau bagaimanapun, hujan tetaplah
anugerah terindah nan patut disyukuri. Karenanya petani bersorak. Karenanya
ikan menari. Karenanya pohon rindang berbasah diri. Sungguh, anugerah terindah
yang benar-benar patut disyukuri. Waktu terasa lama berjalan. Teman-temanku
mengambil keputusan terakhir untuk menerjang hujan karena hari semakin gelap
meninggalkan terang senja. Aku masih belum mampu menerjang hujan. Payungku
tertinggal dirumah kakak tak serta terbawa saat berangkat kuliah tadi. Jarak
antara kampus dengan rumah saudaraku yang kini kutinggali, lumayan membuat kaki
lelah berjalan. Jarak yang harus kutempuh sekitar 3 km dengan menghabiskan
waktu 30 menit perjalanan. Kelokan jalan lereng gunung lah yang membuat payah.
Namun, semua ini adalah pilihanku. Aku harus mampu konsisten pada apa yang aku
pilih. ketika aku pulang dari kota ini dengan bergelar sarjana, aku berharap
dapat menjadi kebanggaan
tersendiri oleh kedua orang tuaku. Bukan untuk menuntut disombongkan. Tetapi
lebih kepada arti ilmu dan kehidupan itu sendiri. Seberapa besar diri menjadi
manfaat untuk orang lain. Tak penting suatu proses mencekik jiwa dan raga. Yang
terpandang adalah karya yang tercipta. Apa yang dapat berguna dan berharga
ketika aku telah tiada.
Terhenyak
dalam lamunan, seseorang menghampiriku.
“Sedang menunggu hujan reda ka ? ”.
“iya nih, waaah… kayaknya hujan bersahabat sampek
malam menjelang”. (menghela nafas panjang).
“lupa bawa payung ya ? pakek ja nih, payungku”.
(sambil menyodorkan payung hijau bermotif daun segar bentuk kecil menyebar)
“lah, nanti kamu pakek apa ? ”
“udah deh, pria itu lebih simple daripada wanita kan ?
pakek saja payungku, biar besok kamu bisa masuk kuliah pagi. Aku nginep
dirumahnya saudaraku saja. Deket kok. Lima langkah dari gerbang belakang kampus
ini.” (sambil nyengir)
Namanya
Hafidz. Dia adalah sahabat kecilku. Kami akrab sedari tingkat taman
kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, sekolah menengah atas hingga di
dunia perkuliahan ini, kami selalu bersama. Tidak jarang kami sering bertengkar
namun bila berpisah selalu merasa ada yang kurang. Kami berusaha untuk dapat
menjadi sahabat yang baik. Persahabatan kami sangatlah wajar. Walaupun masa
yang kami lewati telah panjang, namun hal tersebut tidaklah menimbulkan
perasaan yang lebih. Kami saling menyayangi sebagai sahabat. Hafidz memiliki kisah
cintanya sendiri begitupun sebaliknya denganku. Pihak keluargaku dengan pihak
keluarganya juga dapat saling memahami kedekatan antara kami. Oleh karenanya,
keluarga kami seperti benar-benar terhubungan tanpa sekat.
Waktu
seakan berlari kencang. Tak terasa, kini aku telah berada di semester akhir.
Payahnya mengerjakan skripsi. Letihnya konsultasi dengan dosen pembimbing.
Serta kacaunya pikiran untuk menjadi baik diakhir wisuda nanti. Sempat merasa
down beberapa hari. Untunglah Hafidz selalu memberikan semangat padaku. Padahal
tingkat penggarapan skripsi yang seharusnya dia lebih berat ketimbang aku,
karena fakultas yang dia ambil adalah sains dan teknologi. Dia mengambil
jurusan Teknik Arsitektur. Tingkat pemikiran yang lebih. Tidak mudah untuk
menyelesaikan waktu kuliah hanya 3,5 tahun. Tetapi, ketika kutanyakan perihal
tentang skripsinya selalu saja terlontar kata “innAlloha ma’anaa” (Sesungguhnya
Alloh selalu bersama kita). Seperti tanpa beban kata-kata itu terucap. Tak lupa
senyum nyengir juga tak pernah absen. Hafidz memang bukanlah orang yang mudah menyerah
oleh keadaan. Sungguh beruntung seseorang yang telah menjadi tambatan hatinya.
Bagaimana tidak. Menurutku, Hafidz adalah sosok yang baik. Penyayang
pula. Hingga tak
sedikit teman-temannya yang meminta bantuaanya, dengan ringan hati dia membantu
mereka. Sering kutanyakan tentang sosok yang akan dikenalkan pada keluarganya
setelah wisuda nanti. Jawabnya hanya beberapa kata. “semoga Alloh meridhoinya”.
Walaupun kami begitu dekat. Namun tetap saja dalam masalah tambatan hati,
selalu menjadi rahasia pribadi masing-masing. Dia tidak pernah menyebutkan
nama. Dia selalu menyebut “pengagum hujan”. Begitu pula denganku. Aku selalu
menyebutkan kata “bintang” pada sosok yang aku kagumi ketika berkisah
dengannya. Kami memiliki prinsip masing-masing. Biarlah akhir yang menentukan.
Takdir yang mengikatkan kisah terakhir. Dalam beberapa bait-bait yang selalu
kami kisahkan.
Masa
wisuda. Masa yang ternantikan sejak dulu pertama kali memasuki perguruan tinggi
negeri ini. Tepat ketika kita dilepas dengan gelar sarjana. Namun memberikan
kebingungan luar biasa pada yang belum dapat menerimanya. Berpikir bagaimana
setelah ini. Belumlah terpatrikan tujuan dimana dan kemana. Pasti prosesi
wisuda sangatlah berbeban. Riuh tepuk tangan terasa hambar. Namun kedatangan
orang tua telah memberikan kesan tersendiri. Sedikit air dipelupuk mata mereka
sebagai tanda bangga, menumbuhkan getar haru dalam sanubari. Tepat ketika
wisuda kali ini, selama 3,5 tahun aku mengaguminya dalam diam. Ketika namanya
terpanggil sebagai wisudawan terbaik, senyumku tiada usai terukir. Hanya mampu
memandangnya dari jauh. Untuk berkali-kali, itulah yang dapat aku lakukan.
Bahagia dapat menyaksikan secara transparan. Spontan lamunanku tersentak.
Ternyata namaku terpanggil sebagai wisudawati terbaik kedua setelahnya. Betapa
debar jantung semakin keras berderai. Bersanding dalam satu panggung
bersamanya. Dalam satu podium tiada terasa. Semua seperti mimpi. Diufuk kursi
terakhir yang paling belakang, kulihat senyum ibu dan tawa bapak bersahutan. Inilah
hasil akhir dari semua usaha mereka selama ini. Berbanting tulang. Menepis asa.
Berburu waktu. Terus berusaha memberikan yang terbaik kepada anaknya. Uang
semester yang terhitung tidaklah murah, mampu mereka penuhi dengan tepat
waktunya. Segala upaya mereka yang terselip dalam ingatanku, tak terasa
meneteskan air mata dipipi. Dengan gontai, air mata itu tiada berhenti mengalir
haru. Seakan tidak percaya. Sontak sosok disampingku menyodorkan sapu tangan warna
biru polos bergaris lurus tiga ditepiannya. Aku hanya mampu menerima diam dalam
anggukan. Seraya kata terima kasih tersedak. Namun dalam tatapan mata sekilas,
telah memberikan arti dari semuanya.
Tiga
tahun telah berlalu. Kekaguman itu ternyata masih ada. Tentang seseorang. Terakhir bertemu dengannya
adalah ketika wisuda. Sapu tangan biru itu, belum sempat aku kembalikan. Dia
telah menghilang dalam pandanganku. Entah keyakinan apa yang membuatku
bertahan. Mengaguminya, sungguh mempesona.
Beberapa
hari kemudian, statusku berubah. Aku telah menjadi seorang istri. hari ini,
suamiku mengajakku takziyah ke rumah temannya yang meninggal dunia satu minggu
yang lalu karena kecelakaan. Naasnya, satu rombongan dalam mobil tersebut tidak
ada yang selamat. Tepat ketika sampai disana, suasana berkabung masih
menyengat. Kebetulan teman suamiku, termasuk keluarga pesantren. Jadi,
pemakamannya dilakukan didekat pondok pesantren tersebut dalam makam keluarga.
Setelah selesai sowan ke ndalem kyai, kami langsung menuju ke makam teman
suamiku berada. Betapa terkejutnya mata ini memandang nama dalam nisan.
Terpampang jelas bayangan sosok sang pemilik nama. Muhammad
ilham fuadi. Betapa hati
tersayat pilu. Begitu tuli oleh waktu. Hanya mampu meratap memandangi bunga-bunga
disekitar batu nisan. Kini, aku hanya mampu bersandar dipundak suamiku. Muhammad
Hafidz. Sapu tangan warna
biru yang
masih rapi kusimpan, dan
kini sapu tangan itu berusaha menghapus tangisan sedihku. Terukir doa
menyanjung, semoga engkau mendapatkan tempat terindah disana. Sebagaimana
keindahanmu telah menyanjungku dalam kisah
tentang
seseorang, yang dulu kekagumanku pernah terpatrikan …
Buah karya : Syafarila Al-farabie




0 komentar:
Posting Komentar