Hari ini tanggal 21-07-2014. Puasa tepat hari ke 23 di malam 24. Semua teman-temanku telah kembali kepangkuan ibu mereka. Berjabat erat pada keluarga mereka. Melepas hangatnya rindu. Berpeluk mesra dengan segala indah cinta dan kasih sayang. Kini, tinggallah aku sendiri. didalam gubuk bambu tanpa jendela ini. Sedikit aku akan memperkenalkan para penghuni kamarku. Kamar yang tidak begitu lebar dan tidak terlalu sempit, dihuni oleh 10 orang. Sebut saja, mereka adalah makk achi (@dha), makk maul (asmaul), sunopret (rohmatil), suhiks (amiro), sulisa (sama'), sudila (fadil_a), kamilujeng (lujjeng), kamilupin (epin), mb.cekk (fi3), dan aku sendiri sulalaa (hmm, sbenarnya itu nama dosenku..tp mreka lebih lihai memanggilku seperti itu. Aamiin... ketularan jd dosen :) hehee). Aku telah menganggap mereka sebagai keluarga sendiri. Keluarga kecil. Kecil banget. Bagaimana tidak, kita tidur sama-sama, makan sama-sama, rame sama-sama, jalan-jalan sama-sama, ngaji sama-sama, nakal sama-sama eits, kecuali suami (tdk sama-sama -_- ). Kami memiliki privasi sendiri-sendiri. bagi yang berminat cerita, maka dgn tulus kami belajar menjadi pendengar yg baik. Jika ada yang meminta saran berupa nasehat, maka kami juga akan memberikan timbal balik mencoba semampu kami. ya... kami berasal dari latar belakang keluarga, status sosial, hingga pemikiran yang berbeda-beda. tentunya, kami bisa belajar tentang dewasa dari hal tersebut. tapi, tetap saja yang paling manja adalah aku :D
Makk achi. Sosok yang lebih bijak dari yang lainnya. Dia selalu bilang, hidup ini sudah rumit jadi, jangan dijadikan lebih rumit lagi. Perawakannya yang selalu tenang. Ringan tangan dalam menolong segala jenis orang. Gemar membuat tawa. Candaanya yang khas, mampu jadi pelipur lara. Tapi, siapa sangka dibalik itu semua seperti tersimpan ganjalan yang akupun tak bisa menjelaskan tentang apa itu. Sosoknya yang tenang menyimpan pemikiran mendalam. Keluarga. Impiannya adalah utuh dan bahagia. Dia seakan berusaha mengumpulkan keping-keping memori dari keluarga bahagia itu sendiri. Entahlah, apakah ia sudah menemukan kepingan yang ia cari atau belum. Harapnya dalam setiap doa, keping-keping yang kini tercecer itu, bisa ia jaga dengan sebaik-baiknya. Ia berusaha sekuat yang ia mampu. Menjadi pengikat diantara kepingan-kepingan itu. Menjadi lilin yang bercahaya diantara kepingan-kepingan itu. ya ... dari sanalah ia mencoba belajar melihat dunia dari sisi yang berbeda. aku salut padanya. Karena yang kutahu, andai aku berada diposisinya, belum tentu aku mampu setegar ia :).
Makk maul. Kaku, keras kepala, dan alur kata-katanya menjadikan tubuh seperti tersengat listrik. hehee :D (peace). tetapi, dibalik satir itu semua, ia sosok yang tegar. Masak iyaa, makan sehari cuman 1 kali, terkadang 2 kali. Rutin senin dan kamis ndak makan. kadang-kadang sehari makan, sehari ndak makan, sehari makan, sehari ndak makan, begitupun seterusnya. hadeeeehh, itu perutnya terbuat dari apa ya ???. Keadaan ekonomi keluarga mungkin menjadi faktor salah satunya. Banyak hal yang mampu dipelajari. Pengalamannya bekerja, telah memupukkan karakter seperti itu. Ketika mencari uang, sulitnya seperti mencari jodoh. Hingga, Rp. 500,- pun harus benar-benar ia perhitungkan agar tidak sia-sia keluar dari dompetnya. Menurutnya, lebih baik ditabung daripada keluar sia-sia. sia-sia dalam pengertianku adalah jajan yang tidak begitu penting. hmmm, padahal aku tukang jajan. hehee, good job :)
Sunopret. Tipe pemikir. Setiap hal yang penting bagi dirinya, pikirannya sudah mencapai gunung himalaya. Kita sering bercandaan seakan memberi kesan stress sama-sama. padahal dia mah, paling ndak mau dikatakan stress sama-sama. Kenyataannya, derita semester akhir. biasalaaaah, jawaban atas pertanyaan "suamiku ntar, sapa ya ???" :D. Kehidupan sulit pada masa kuliah kakaknya, tanpa ia sadari telah menjadi bekalnya dijurusan bhs arab. Padahal masa SMA, kelihaiannya tampak pada bidang IPA, bukan bahasa. Hitung menghitung. Lucu memang, ketika apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. dalam ilmu sosiologi, hal tersebut dinamakan masalah. Sepanjang hari-hari hingga detik ini, aku tahu ia mampu. Ia menguasai. walaupun terkadang potensinya, tak mampu ia sadari :)
Suhiks. Tak banyak yang kutahu. Dia selalu couple dengan sunopret. Dan dia juga jarang dipondok. Terkadang pulang, terkadang pergi dari rumah ke kampus. Maklum lah, diantara kami, rumahnya dia yang paling deket. Ehh, pernah suatu ketika pas aku pinjem krudung, buka lemarinya, loooo kok ndak ada baju dalam jumlah yang banyak ??? Masak iyaa, dia berniat boyong -_-. Awas ae, boyong = ndak bakal dima'fu :(. huft..ehh dia termasuk mahasiswi bidikmisi. Tak ayal, jika ia rajin. Termasuk yang paling rajin diniyah juga tentunya. Mempertahankan nilai akademik dari tingkat antar semester bukanlah hal yang mudah. Dukungan dari keluarganya, sangat ia harapkan. Mungkin karena itulah ia sering pulang. Diam-diam menghanyutkan. Betapa sinergi cinta dan kasih sayang keluarga, memberikannya kesan untuk terus menatap masa depan :)
Sulisa. Sosok paling antik kalo ketawa. Kita memiliki suara nan merdu (merusak dunia). Terkadang, sampek gubuk gonjang ganjing. Maklum, udah dari sononya. Pendidikan yang ditanamkan dalam dirinya adalah keras berujung tegas. Hingga menjadikannya pribadi yang andai hati berkata iya, maka akan ia lakukan. andai otak berkata iya, maka akan ia lakukan. Suatu ketika, kita butuh karakter seperti itu untuk menjadi pemimpin. Dibumbui sedikit, agar tidak terlalu kaku dan otoriter. Kusadari, ketegasan itu penting. Sepenting cangkang yang menyembunyikan mutiara :)
Sudila. wah-waah ... ini niii, sosok paling langka. Paling berani, paling nekat, paling sering bilang "jambuuuu" hehee. Tukang rame yang sama sepertiku. Kehidupan telah membuatnya belajar banyak hal. Terutama tentang makna berbagi. Berbagi hati, ketika ayahnya dinegara seberang. Tiada kuasa, ia menjadi egois. Kepercayaan tumbuh dalam setiap detik. Merajut perilaku berani dalam dirinya. Peluk mesra ibunda, seakan membuatnya menitikkan air mata hangat. Namun, air mata itu cukup disimpan dalam batinnya. Mengapa ??? karena yang berusaha ia lakukan adalah mengulurkan tangan, untuk mampu menggandeng ibunya, menghadapi getir hidup, dalam penantian ayahandanya kembali :)
Kamilujeng. Pola pikir yang seakan bertukar denganku. Dulu, ketika aku masih dimasa wajib belajar 9 tahun plus 3 tahun, persahabatan adalah masa yang indah. Hanya jalan-jalan. Hanya rame-ramean bareng. yaaa, sahabat. Tetapi, masaku ketika itu, sekaranglah yang dialami kamilujeng. seakana berbalik. Aku seperti saat dimana masa ia wajib belajar 9 tahun plus 3 tahun. Tak memaknai apa itu sahabat. Yang ada hanyalah teman dalam jumlah yang banyak. Mencoba bersaing. Hingga keluar sebagai pemenang. Bukankah hidup ini kompetisi ??? :)
Kamilupin. Lucu dalam kepolosannya. ehh, tentunya masih polosan aku. Lumayan laaah, dia telah membuatku belajar betapa keluarga itu sederhana dan karena kesederhanaan itulah, keluarga menjadi kata kunci bahagia. Dia memperkenalkan mbak ida dan pak munir. Mereka adalah orang tua kamilupin. Sederhana bukan ??? tak perlu menjadi orang lain untuk cinta dan kasih sayang. Tak perlu dengan ketakutan untuk menghormati. Tapi, hanya dengan kesederhanaan kita mampu mendapatkan banyak hal yang lebih dari kita duga :)
Mbak cekk. "shirothol mustaqim". ehh, maksudnya dia yang paling sering ngajak sholat jama'ah. Padahal dia anggota baru dikamar ini. hmm, lebih tepatnya pindah kamar. Setiap kali dia ngajak kita sholat jama'ah, kita mesti ketawa. dassar syetan. Bisikannya tiada pernah berakhir. :)
Lengkaplah sudah semuanya. Ketidak sepahaman dan perbedaan bukanlah perkara yang mutlak tak bisa diubah. Hanya butuh waktu dalam proses. Hingga menjadikannya mampu memetik hasil diakhir riwayat, merupakan hal yang luar biasa. Tak bisa hanya dengan menjadi omong kosong belaka. Karena hidup dimulai dari berbeda, begitu juga diakhiri dengan perbedaan yang tetap ada ... senyum, sabar, semangat :) :) :)
0 komentar:
Posting Komentar